I. Genius Home Schooling


anigif

Genius Diciptakan,

Bukan Lahir


Pernahkah kita sebelumnya mendengar nama-nama seperti Hevesy György, Szent-Györgyi Albert, Wigner Jenő, Gábor Dénes, Harsányi János ?. Saya yakin, semuanya sependapat dengan saya, bahwa seluruh nama-nama yang disebutkan tadi tidak begitu familiar di telinga kita. Pertanyaan selanjutnya, pernahkah kita sebelumnya mendengar Laszlo Polgar, yang katanya pernah menghebohkan dunia lewat konsepnya “how to teach the genius” ?.

Sebagian mungkin memang pernah mendengarya, tapi tidak bagi saya. Dan terakhir pernahkah kita sebelumnya mendengar nama Judit Polgar ?. Ya, nama ini cukup familiar di telinga saya, dan saya yakin banyak yang mengenal nama yang terakhir ini, terlebih bagi para penggemar catur.

Judit Polgar adalah pecatur putri terbaik dunia saat ini, yang pada tahun 1991 meraih Grand Master (GM) pada usia 15 tahun, sekaligus melampaui rekor peraih GM termuda sebelumnya a.n. Bobby Fischer dari USA (Namun demikian rekor Judit sejak tahun 2004 sudah pecah dengan munculnya anak ajaib dari Norwegia, Magnus Carlsen, yang meraih GM pada usia 13 tahun).

Seluruh nama yang disebutkan tadi merupakan warga negara kebanggaan Hongaria (Hungary atau Magyar), sebuah negara dengan jumlah penduduk 10.000.000 (4% dari jumlah penduduk Indonesia), yang terletak di Eropa tengah (berbatasan dengan Austria, Slovenia, Kroasia, Serbia Montenegro, Rumania, Ukraina dan Slowakia), dan saat ini masih mengalami fase transisi dari bentuk negara sosialis menjadi negara demokrasi (pasca rubuhnya tembok berlin, 9 November 1989). Sejak 1 Mei 2004, Hongaria telah menjadi anggota Uni Eropa (UE), dan mulai 21 Desember 2007 Hongaria akan menyusul 15 negara Eropa lainnya untuk menjadi bagian dari negara Schengen.

Deretan nama-nama diawal merupakan beberapa contoh dari sekian banyak warga Negara Hongaria yang memperoleh nobel, khususnya dalam bidang Fisika, kimia, physiology dan ekonomi. Sementara Laszlo Polgar adalah guru catur luar biasa, yang walaupun konsepnya anti teori tapi hasilnya mencengangkan dunia. Tulisan ini mencoba melihat keberhasilan seorang Laszlo dengan kegigihannya mewujudkan visi dan misi spektakulernya dalam mendidik ketiga putrinya, melalui homeschooling, dengan sedikit ilustrasi tentang atribut negara Hongaria.

Laszlo Polgar tidak lain adalah orang tua dari Judit Polgar, yang dalam bukunya ”Bring up Genius” menggagas konsep “how to teach the genius”. Dalam buku yang ditulisnya pada tahun 1989, Laszlo menulis “Bawalah seorang bayi kepada saya, maka 15 tahun kemudian dia akan menjadi pecatur hebat dunia”.

Sesumbar yang disampaikannnya bukan tidak berdasar, karena dengan bantuan istrinya (Carla) dia sudah melakukan eksperimen kepada ketiga puterinya (dunia kemudian menyebutnya the polgar sisters). Ketiga puterinya tidak disekolahkan secara formal melainkan hanya menjalani homeschooling (sekolah rumah).

Laszlo mengajarkan kepada anaknya matematika tingkat tinggi, bahasa, kesenian, tamasya-olahraga, dan selebihnya digembleng main catur. Puteri sulungnya Zsuzsa Polgar (Susan), pernah 4 kali menjadi juara dunia catur wanita dan 5 kali juara olimpiade catur wanita.

Pada usia 15 tahun Susan sudah menduduki peringkat pertama dunia catur wanita. Putri keduanya, Zsofia Polgar (Sofia), juga Master International (MI) wanita papan atas, dan pada usia 14 tahun sudah menjuarai turnamen catur dunia di Roma dan dunia mengenangnya dengan istilah “sack of rome” (perampokan Roma).

Yang paling menonjol memang si bungsu Judit Polgar. Judit merupakan orang pertama yang menerobos dominasi pria di peringkat atas pecatur dunia. Gara-gara Judit, penentuan peringkat/rating catur (elo) tidak lagi membedakan pria dan wanita.

Istilah elo juga dikembangkan oleh Fisikawan terkemuka asal Hongaria, sekaligus juga pecatur kelas dunia era sebelum-sebelumnya, Prof. Arpad Emre Elo. Keistimewaan dari Judit adalah keengganan Judit bertanding dengan pecatur wanita. Ia memang punya alasan tersendiri, dan dunia mengerti dan memahaminya, karena tak ada lagi tempat baginya untuk bertanding di kelompok putri.

Pecatur-pecatur papan atas pria kelas dunia seperti Anatoly Karpov, Garry Kasparov, Vladimir Kramnik, Viswanathan Anand (juara dunia 2007) pernah dia taklukkan.

Atribut lain untuk Hongaria adalah lembaga matematikanya, yang telah mendidik banyak pemenang Hadiah Nobel. Beberapa nama matematikawan Hongaria terkenal a.l Pál Erdős, yang menerbitkan buku dalam lebih dari 40 bahasa yang sampai saat ini angka Erdősnya (istilah matematika) masih ditelusuri ; John Von Neumann, yang tidak lain merupakan salah satu perintis dalam komputasi digital, dan János Bolyai, yang berperan besar dalam penemuan geometri non-Euclidea. Bangsa Hongaria juga sangat bangga akan penemuan-penemuan mereka, seperti holografi, korek api, teori tentang bom hidrogen, bolpen, kubus Rubik dan bahasa pemrograman BASIC.

Berdasarkan fakta bahwa banyak warga negaranya berhasil memperoleh penghargaan nobel dalam berbagai bidang ilmu serta fakta tentang hasil penemuan-penemuannya, jelas sekali bahwa Hongaria sebenarnya memiliki riwayat, tradisi dan kualitas pendidikan yang patut diakui. Betul memang bahwa negara Hongaria kalah populer dibanding negara-negara Eropa lainnya seperti Belanda, German, Inggris, Perancis, Belgia, Austria, Spanyol, dll., khususnya dalam hal pendidikan tingginya. Namun cukup beralasan, karena saat komunis berkuasa, pendidikan tinggi Hongaria tertutup bagi mahasiswa asing, sehingga dunia luar sepertinya tidak mengetahui banyak tentang Hongaria, terlebih lagi peta pendidikannya.

Namun setelah situasi politik dan ekonomi stabil, seiring perubahan rejim pemerintahan pada tahun 90-an, iklim pendidikan di Hongaria secara bertahap mengalami perubahan, terutama terhadap kehadiran mahasiswa internasional.

Dewasa ini mahasiswa asing sudah menjadi bagian elemen penentu dalam kehidupan pendidikan tinggi di Hongaria. Bahkan sejak tahun 2005, pemerintahnya melalui Magyar Ösztöndíj Bizottság/MÖB (Hungarian Scholarship Board) membuka “Scholarship pool” bagi warga negara asing dari 40 negara (termasuk Indonesia), untuk menempuh pendidikan, melakukan penelitian dan magang (dalam arti mengenyam pengalaman professional) di berbagai institusi pendidikan atau penelian di Hongaria. Pintu sudah terbuka lebar bagi siapapun untuk mengunjungi negaranya Judit Polgar.

Dari keberhasihan Laszlo Polgar mendidik  “The Polgar Sister” melalui “homeschooling”, kita bisa melihat bukti lain dari sebuah pendidikan alternatif dalam mengembangkan potensi anak secara maksimal. Laszlo percaya bahwa kunci keberhasilan seorang individu adalah mengoptimalkan otak di usia dini dibandingkan menghabiskan waktu bermain diluar atau menonton TV.

Di masa itu, ide homeschooling merupakan hal yang baru dan tak lazim, dan Laszlo sempat mendapat tentangan luar biasa, tidak hanya dari masyarakat tapi juga dari pemerintah Hongaria. Namun dia tetap mendidik anaknya melalui homeschooling dengan penekanan pada bidang catur, dan ingin membuktikan bahwa pencapaian di bidang catur dari ketiga putrinya kelak akan mendatangkan kesuksesan, tidak hanya bagi keluarganya, tapi juga bagi negara Hongaria.

Laszlo mempercayai bahwa Geniuses are made, not born” (genius diciptakan, tidak lahir), dan “bakat semata tidak ada artinya, sukses adalah 99% kerja keras”.

Dalam pengalaman mendidik ketiga putrinya, Laszlo juga melihat bahwa diantara ketiga puterinya, Sofia adalah yang paling berbakat bermain catur, kemudian diikuti Susan dan Judit.

Walau dari aspek bakat paling rendah, namun Judit punya keunggulan lain, yaitu memiliki motivasi paling tinggi dan pekerja keras.

Tahun 1992, seorang milioner dari Belanda bernama Joop van Oosterom amat tertarik dengan ide apakah “genius adalah dilahirkan atau diciptakan?”. Joop pernah ingin mendanai Laszlo untuk mengadopsi 3 orang anak lelaki dari negara terbelakang dan membesarkan mereka sama seperti cara dia membesarkan ketiga putrinya. Laszlo amat tertarik, namun istrinya Karla tidak menyetujui ide tersebut, sehingga sampai saat ini belum dilaksanakan.

Mengenai anak sulungnya Susan, saat ini selain memiliki Susan Polgar Foundation, Susan juga dipercaya oleh Texas Tech University (TTU)-USA untuk menjadi direktur SPICE (Susan Polgar Institute for Chess Excellence) – TTU. Dalam upacara wisuda TTU, 12 Mei 2007 Susan mendapat gelar Doktor kehormatan (honorary doctoral degree of human letters) dari Texas Tech University, dan dihadapan 25.000 undangan (wisudawan, keluarga, dll), Susan menyampaikan sambutan sekaligus pesan yang sangat inspiratif, tidak hanya bagi wisudawan, yang isinya a.l. sbb :

……………

Through chess I learned some of the most important lessons in life: concentration, focus, perseverance, logical thinking, creative thinking, time management, planning and many more. In chess every move is a new decision. Every move has consequences and we have to be responsible for them. In chess we set short and long-term plans. However, there is an opponent in chess and they want to stop our plans. There are constant changes in the situation, in the position on the chess board and we have to adjust to them.

What is my message to you today? After graduating from this fine university, you are starting with at least equal if not better chances than anyone, than anyone out there. The most important thing is to find your passion. To find something that you really care about, that you are happy to wake up every morning and learn and do and work more in that direction. Work hard, be diligent and never let any excuse stand in the way of your success. There will be days when you fail; there will be times you won’t succeed right away. But what’s important is not how many times you fail but how many times you pick yourself up and try again. And you will succeed.

You have received a wonderful education. But this is just like an opening of a chess game. It may give you confidence. It may give you a jump start in your career. But the rest of the game is now up to you. Combine your passion, the knowledge you have acquired here at Tech with hard work and you will be a success. Starting today you are embarking a new chapter of your life and if you remember these words, live by these principles, you will succeed. There are no miracles in life. Success is 99 percent diligence, hard work and perseverance and 1 percent luck. Miracles can come only from within you. You have the power to set your life on any road you choose. Go out today and choose your own road. Go out today and make a mark in life. Go out today and begin the rest of your wonderful life. I wish you all the very best and remember you can make it happen and don’t ever give up.

…………

Apa yang diungkapkan Susan Polgar, mirip apa yang ditulis ayahnya dalam buku “Bring up Genius”. Semuanya punya keyakinan bahwa kerja keras, keteguhan dan tidak ada kata menyerah adalah kunci keberhasilan. Dan bagi kita tentu saja selain kerja keras, kita semua yakin akan kekuatan doa kita pada Allah SWT dan yakin akan kehendak-Nya. Semoga cerita keberhasilan keluarga Polgar, bisa membuka mata kita tentang banyak hal dan memberi inspirasi kepada kita semua untuk terus maju dan berkembang.

Térjünk varázsló 2009-ben (mari kita ciptakan jenius pada tahun 2009).

Pemenang Nobel Asal Hongaria

Hevesy György, 1943, Kimia

Kertész Imre, 2002, Sastra

Szent-Györgyi Albert, 1937, Fisiologi atau Kedokteran

Carl F. Cori Austria-Hongaria

Gerty Cori Austria-Hongaria

John Harsanyi Hongaria

Eugene Wigner Hongaria

Jaroslav Heyrovsky Austria-Hongaria

Jaroslav Seifert Austria-Hongaria

Philipp von Lenard Austria-Hongaria (kini Slowakia)

Ivo Andric, Austria-Hongaria, Sastra, 1961

Sumber : http://www.supergreatwork.co.cc/2009/04/genius.html

Susan Polgar

Make me a Genius

Chess Grand Master

Susan Polgar

Susan Polgar lives and works in New York City. She sees the world in a very unusual way. Susan has the brain of a genius, perfectly adapted to het single, life-long obsession. Susan is the first female Chess Grand Master. But, she wasn’t born with her brilliant brain, it was created by an extraordinary childhood. Susan is the living proof of an amazing theory, that any, ordinary, child can be turned into a genius.

It’s Sunday morning and New York’s Greenwich Village is the setting for a showdown. Playing white; Susan Polgar, Playing black; Paul Truong a former US champion of a super-charged form of chess – Blitz. Each player must play the entire game in just sixty seconds. The minute is up and Paul is out of time.

By understanding Susan’s brilliant brain, we can unlock the potential of our own. We can understand how people make life-or-death decisions faster than a super-computer or perform miracles of memory in their everyday jobs.

Susan has competed, on equal terms, with the greatest names in chess, like Gary Kasparov, Anatoly Karpov and even the great Bobby Fisher. But, Susan’s genius is no accident of birth, she was once an ordinary four year old whose life was transformed by a unique education. Susan Polgar grew up a world away from New York City. In the late 1960s, Hungary still languished in the iron-grip of The Soviet Union. For the ordinary citizens of Budapest, daily life was a grim struggle to make ends meet. The future queen of the chess board was hardly born a princess.

Laszlo Polgar

Although Susan’s home was very humble, her father was a man with a unique vision. A trained psychologist, Laszlo Polgar, had made a deep study of the childhood origins of genius. The archetypal example was Wolfgang Amadeus Mozart. Already composing at the age of five, he seemed to be the classic case of a child born with special gifts, but Laszlo noted that Mozart’s father Leopold, himself an accomplished musician, gave his son early and invaluable schooling in his craft.

Laszlo decided that specialised training was more important than natural talent and he had an astonishing plan that would put his theory to the test.

When Zsuzsa (Susan) was born in April of 1969, the Polgar family experiment was underway. Her father had already written a book called “Bringing up Genius” and it said that genius was not born, but made. Susan translates a quote from the book: “Genius equals work and fortunate circumstances”. By fortunate circumstances, Laszlo meant the happy home that he and his wife Clara would provide and the hard work was guaranteed by schooling Susan himself.

Laszlo planned to train Susan in mathematics but, she chose her own future by a happy accident. One day while searching for a new toy, she happened across a chess set. There was no history of brilliant chess players in the Polgar family. Laszlo himself was strictly an amateur but, he was convinced he could train his daughter to be a genius at anything, as long as she was a willing student.

Easy perhaps if Susan had chosen music or science, but devoting her childhood to chess made the quest for genius much harder; for one reason. In the early 1970s, chess was totally dominated by men. Some of the world’s best players believed that the female brain just couldn’t cope with the game. A little girl was about to prove them wrong. In the early 1970s, it was taken for granted that chess required a typically male way of thinking.

Just a few months after she learned the game, Laszlo took Susan to Varos Meteor the most formidable chess club in Budapest. Susan was about to face male opposition in more ways than one. The club members thought Laszlo was mad but, if they were ready to humour a pretty little girl, they weren’t ready for what happened next. Susan began the habit of a lifetime; beating men at chess. The only man that wasn’t shocked was Laszlo Polgar, he was building Susan’s training around a mental skill that didn’t depend on eith the left or right brain. Girls could master it just as easily as boys.

Chess in the Pool

A Man’s Game

Back in New York, Susan is about to play a game with a difference; playing a game of chess by ‘phone without seeing the board. Playing a game without a board helps to train the memory and Susan has been practising since childhood. She can play up to five games, in her head, simultaneously. When it comes to chess, Susan can perform miracles of memory. In fact, she’s doing something that should be impossible.

By the early 1980s, the Polgar chess factory had stepped up it’s output. Susan’s two younger sisters, Zsofia and Judit, were next on the genius assembly line and in a few years the family would be ready to take the world of chess by storm.

At fifteen, Susan was already the top-ranked female player in the world. At the 1985 New York Open, she caused a sensation by beating a grand master for the first time. By 1989, twelve year old Judit had a winning streak of eight competitions in a row and, at fourteen, Zsofia annihilated four grand masters for one of the greatest tournament results of all time.

Susan is still a powerful presence at the chess board. Like all the Polgar sisters she seems to make a move as easily as taking a breath.



Derek Paravicini

The Musical Genius

Extraordinary People

Derek Paraviccini

Born three and a half months prematurely, Derek Paravicini miraculously survived, but his twin sister did not. Technically, he died three times in the hospital and his eyesight was destroyed by an oxygen overdose. He has been left completely blind, partly autistic, can’t tell left from right and cannot count to ten, but despite his disabilities he has an incredibly acute sense of hearing, and is a musical genius.

Now 26 years old, Derek has the I.Q. of a 4 year old. His family had little hope that Derek would ever be able to communicate meaningfully, until at the age of two something extraordinary happened! At home with his mother, Mary Ann Hanbury, Derek sat at the piano playing a tune. Soon after this Derek was taken to a school for the blind.

Tommy McHugh

Accidental Genius

A Fortunate Accident?

Tommy McHugh

Following the story of the savant George Widener, whose incredible skills result from brain damage at birth, we consider the evidence that accidental brain damage can trigger the release of hidden talents much later in life

One such case is Tommy McHugh. Until five years ago, this Liverpudlian builder had never picked up an artist’s brush but, ever since a near-fatal brain injury Tommy has been consumed by a powerful compulsion to paint.

One morning, Tommy was sitting on the toilet when he was rudely interrupted. A knock at the door prompted him to try too hard to evacuate his bowel resulting in a sudden increase in blood pressure that caused two arteries to rupture in his brain, one on either side haemorrhaging a large quantity of blood.

Surgeons worked quickly to save Tommy’s life. They inserted a wire coil to plug the leak on the right side of his brain and applied a metal clip to the left to prevent further injury.

When he was released from hospital, he couldn’t walk, he couldn’t eat, he didn’t know that he needed to eat. Once he started to walk, his head became full of notions, things he want to say, things he wanted to get out, so he began writing poetry – obsessively. He recalls: “The more I wrote, the more I wanted to write, it was like a drug”. But, Tommy’s poetry was just a prelude to his madness to come.

Tommy’s wife, Jan, was in the kitchen when she got her next shock. Tommy was drawing hundreds of alien-like faces all with screaming, agape mouths. This was his inner torment being expressed.

Tommy’s artistic mania has threatened to overtake his surroundings and no-one can accuse him of not making the most of the available space. He has paintings in every room, on every surface, even the ceilings. His talent might fall short of Michelangelo’s but he makes up for it with his manic drive. It was this drive that, ultimately, became too much for Jan.

It all came to a head when Jan, a houseproud woman, realised that the house was filling with smoke. She went upstairs to investigate and found Tommy melting wax candles, blackening himself, the room and the house. Tommy’s response was “You don’t know who I am, do you?”.

What had happened to Tommy McHugh? Nobody seemed to know. Alone and desperate, he sent off nearly sixty cries for help, written in rhyme, to doctors around the world. Unknown to Tommy, nearly 3,000 miles away, a Harvard neurologist would understand exactly what Tommy was going through.

Alice Flaherty, a leading expert on the effects of brain injury on behaviour, had discovered from first-hand experience how unpredictable the brain can be. She had suffered the still-birth of her twins after a complicated and traumatic pregnancy. She immediately felt very sad at her loss but, after about ten days she was overcome with the compulsion to write everything down. She believes that the traumatic birth led to a biochemical change in her brain that resulted in her manic compulsion to write.

It all came to a head when Jan, a houseproud woman, realised that the house was filling with smoke. She went upstairs to investigate and found Tommy melting wax candles, blackening himself, the room and the house. Tommy’s response was “You don’t know who I am, do you?”.

What had happened to Tommy McHugh? Nobody seemed to know. Alone and desperate, he sent off nearly sixty cries for help, written in rhyme, to doctors around the world. Unknown to Tommy, nearly 3,000 miles away, a Harvard neurologist would understand exactly what Tommy was going through.

Alice Flaherty, a leading expert on the effects of brain injury on behaviour, had discovered from first-hand experience how unpredictable the brain can be. She had suffered the still-birth of her twins after a complicated and traumatic pregnancy. She immediately felt very sad at her loss but, after about ten days she was overcome with the compulsion to write everything down. She believes that the traumatic birth led to a biochemical change in her brain that resulted in her manic compulsion to write.

Alice Flaherty

Alice Flaherty

Alice turned to psychiatric drugs for help. Eventually, she found the ones that curbed her mania. As word of her experience spread, writers and artists with similar conditions started flocking to her door.

Luckily for Tommy McHugh, one of the dozens of letters he’d sent off landed on Alice Flaherty’s desk. She immediately understood, and felt a bond with Tommy. She wanted to meet Tommy as she believed she could help him better understand what had happened to his brain.

Tommy has a criminal record which prevents him entering The United States, but touched by his letters Alice travelled to England for their first ever meeting. To Alice, the full spectacle of Tommy’s mania isn’t so unfamiliar. The Harvard neurologist quickly finds herself becoming immersed in Tommy’s strange world.

In anticipation of Alice’s visit, Tommy has asked his surgeon for his medical records to show her. After studying his scans, Alice believes that the bleed from Tommy’s aneurysm produced his overwhelming urge to create by putting pressure on two critical areas of his brain; the frontal lobe which generates ideas and the temporal lobe which controls their orderly release into the world. In Tommy’s brain the delicate balance these two areas has been upset causing a manic outpouring of ideas. Alice explains: “This balance is now unstable in him and gives mood fluctuations, gives creativity, gives suffering and sometimes it’s hard to tease them apart. Typically, when someone has a big burst of output after a tragedy, it will die away. With Tommy it’s still going strong after five years and I don’t think this is ever going to stop”.

For Tommy his horror story has a happy ending. He acquired his savant like ability through a near fatal trauma but he is, in his own slightly-crazy way, content.

The above information came from the UK Channel 5 “My Brilliant Brain” documentary series.


Pikiran Genius memungkinkan anda untuk memprioritaskan optimise dan apa yang harus dilakukan dan dapat dilakukan hari ini bukan besok, sesuai dengan situs web dan tidak nonsense menggunakan bahasa mereka adalah hal yang tercermin dalam produk. Maybe it’s the matematika tetapi Saya banyak pilihan ini bagian dari perangkat lunak.


GENIUS S

Genius Home Schooling melatih anak menjadi Genius sejak dini.

Genius diciptakan hanya melalui Latihan Latihan Latihan,  jangan berharap anak menjadi Genius tanpa Latihan.


hindux

Is a genius born or made?

Sering kita dengar dari mereka – prodigies menghitung. Mereka adalah orang-orang yang dapat dengan cepat dan akurat memecahkan perhitungan matematis kompleks. Hingga baru-baru ini, kami telah kami sendiri Lilavathi Devi yang terkenal itu ilmu hitung feats. Sekarang, Perancis adalah semua-agog tentang seorang anak muda bernama Rudiger Gamm yang telah ada wowing pemirsa TV sangat mengherankan dengan kemampuan untuk menghitung akar kelima dari sepuluh angka-angka dalam beberapa detik. Apakah orang-orang ini geniuses? Atau mereka savants, yang berarti orang-orang yang mendalam dan pelajari dalam satu tempat tertentu atau bidang tetapi biasa (atau bahkan unimpressive) pada orang lain? Darimana mereka mendapatkan kemampuan mereka? Bagaimana menentukan satu genius? Dapat mencapai salah satu seperti proficiency?

Pertanyaan ini sedang dalam beberapa hari ini dialamatkan laboratorium dari kognitif psikologi di seluruh dunia. Beberapa cara belajar banyak driver taksi yang lebih besar dari London ke daerah dapat menyimpan dan mengambil besar jumlah data tentang peta rute dan lokasi dari Lanes bylanes dan terkapar di kota. (Incidentally kemampuan ini mungkin tidak terbatas ke dalam cabdrivers London sendiri; melihat beberapa taksi atau scooter rickshaw driver dari Delhi atau Chennai). Beberapa orang lain yang belajar musik prodigies dan apakah mendengarkan musik memperluas kemampuan pikiran kita. Namun orang lain melihat pemain catur dan telah berusaha untuk melatih orang menjadi menjadi catur champions. Sebuah kisah sukses dalam hal ini adalah Miss Judith Polgar dan dia dua saudara perempuan dari Hungaria, yang dilatih oleh orang tua mereka untuk menjadi kelas dunia champions. Bapa mereka Dr Laszlo Polgar telah menulis buku tentang hal ini berjudul Bring up Genius.

Terbang seperti cerita di muka yang konvensional bahwa genius yang lahir dan tidak dibuat. Mereka sengaja menunjukkan bahwa praktek dapat bantuan dalam membuat genius.Thomas Alva Edison menyatakan dgn ringkas – “1 persen inspirasi dan 99 persen keringat.” Jadi, apakah yang geniuses tidak hanya air dari rahim tetapi perlu dilakukan, disiapkan, diproses? Tempatkan dengan cara lain, bisa salah satu sesuai dengan bakat dibuat menjadi genius?

Jangka panjang dan jangka pendek kenangan

Laszlo Polgar jadi berpikir, sehingga tidak Anders Ericsson dari Florida State University. Pada 13 Januari isu yang Economist highlights his argumen dengan judul “Practice makes perfect”. Ericsson tidak berlangganan ide yang genius lahir demikian, atau bahwa ia adalah gila dengan rangkaian gen khusus. Namun, ia percaya bahwa genius – baik Mozart, Gauss atau Einstein-juga bekerja keras untuk itu. Dia menunjukkan bahwa mereka telah mengembangkan kuat memori untuk menyimpan informasi tentang topik yang baik pada mereka. Mereka tampaknya dapat menjaga informasi penting khusus di bidang otak mereka, dan akses dan menggunakan data untuk bekerja genius mereka bertindak.

Neuroscientists membedakan antara jangka pendek atau “bekerja” dan memori jangka panjang atau tdk sengaja atau “menyimpan” memori. Kami kami memanfaatkan memori jangka pendek untuk beberapa jenis kegiatan; ini segera mungkin melibatkan tugas-tugas seperti mengenali kami pelayan di sebuah restoran asing di restoran kami telah untuk makan malam, dan pengeritingan kepadanya untuk menangkap perhatian nya untuk layanan ini. Kita lupa tentang dia setelah beberapa hari. Dia tidak tersimpan dalam memori jangka panjang. Tetapi informasi tentang topik penting, misalnya yang berkaitan dengan profesi kami atau kami rekening bank, atau saudara kita, akan disimpan dalam memori jangka panjang untuk mengambilan dan reworking. Dr Ericsson percaya bahwa ini adalah memori jangka panjang yang penting bagi kinerja yang mengesankan berbakat baik dalam catur, musik, matematika, atau bahkan mengetik. Dia lebih percaya bahwa ada orang yang dapat bekerja pada memori jangka panjang daerah dan mempelajari trik untuk menyimpan informasi yang ada untuk kemudian kembali. Perlu latihan, partice keras. Tetapi apa yang tidak dilakukan MS Subbalakshmi, (akhir) Madurai Mani Iyer, atau Ravi Shankar apa yang mereka? Mereka tidak hanya mimpi mereka Swara chanchara dari nowhere. Mereka belajar, dipraktikkan dan disempurnakan mereka seni, dan pengalaman ini telah membantu mereka menciptakan frasa baru, pola dan tunes. Untuk menjadi kreatif individu bukan kue-berjalan. Memerlukan usaha, ikhlas pengejaran yang dipilih dari daerah kegiatan, seringkali pada biaya tugas-tugas lainnya. Tdk asli yang absen dari cerita-hati profesor mendidih saku-nya menonton di air sambil memegang telur untuk sarapan di tangannya menggambarkan ini. Einstein itu tidak terlalu khusus tentang bagaimana dia berpakaian atau apakah ia bersisir rambut itu, tidak terjadi kepadanya terlalu sering untuk melakukannya! (Jadi, kusut rupa kontemporer dari beberapa Einstein wannabes!)

Cari ke otak bekerja

Wizards dan geniuses yang perlu bekerja dan bekerja keras untuk itu diterima – maka “keringat”. Apa yang membuat usaha ini adalah pertanyaan yang menarik. Beberapa jawaban yang datang dari luar neuroscience laboratorium, yang mendukung Dr Ericsson beberapa luasnya. The mathematical wizard Rudiger Gamm sepakat untuk berpartisipasi dalam satu percobaan seperti yang dilakukan kepadanya oleh Dr Nathalie Tzourio-Mayozer dari University of Caen, Perancis, dan dia asosiasi. Mereka bertanya untuk melakukan beberapa his feats matematika, dan dia melakukannya, mereka dipantau berbagai wilayah di otak yang menggunakan teknik yang disebut PET (positron emisi Tomography), yang membantu peta wilayah di otak yang diaktifkan oleh tugas. Mereka menemukan bahwa dia terus berpindah antara jangka pendek, upaya-memerlukan strategi penyimpanan dan sangat efisien jangka panjang memori encoding dan media. Dengan kata lain, ia menggunakan nya memori jangka panjang untuk “taman” atau menyimpan hasil pekerjaan dia diperlukan untuk menyelesaikan perhitungan-Nya. Ini menggunakan strategi penyimpanan ekstra ruang memori yang tinggi kecepatan tinggi kapasitas digital komputer lakukan. Seperti “parkir” memungkinkan dia menghindari jebakan kehilangan intermediate langkah penting – sesuatu non-ahli kami terus kehilangan diri in Pada dasarnya itu, menggunakan Gamm berbeda (tambahan) untuk wilayah otak perhitungan, strategi yang biasanya tidak kita lakukan. Judul yang Tzourio-Mayozer kertas (yang muncul dalam isu Januari Alam Neuroscience) says it all: “Mental perhitungan dalam keajaiban dari berkelanjutan oleh prefrontal kanan dan di tengah-tengah sementara daerah (dari otak). Ini adalah daerah di otak yang terhubung dengan memori jangka panjang. Sementara prodigies seperti Gamm menggunakannya untuk mereka sebagai tambahan feats daerah, yang kami “normal” people don’t.

Menariknya, Gamm lain adalah biasa. Selain itu unggul dalam kemampuan matematika, dia sebagai “biasa” seperti kamu dan saya di bidang kegiatan lainnya. Selain itu, dia tidak selalu sebuah keajaiban matematika. Dia juga tidak dilahirkan tetapi berbakat ini mengembangkan keterampilan hanya 6 tahun lalu, melalui praktek sehari-hari dari empat jam Glosarium (banyak musisi jalan mereka belajar seni). Hal ini menarik karena banyak yang percaya prodigies menampilkan mereka prowesses sudah sangat di usia muda, orang yang mendengar lebih prodigies anak, bukan satu orang dewasa! Gamm menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk laki-laki dan mekar di tahun kemudian juga.

Cara untuk membuat genius

Apakah ini berarti meningkatkan memori jangka panjang strategi adalah kunci untuk performa luar biasa? Dr Ericsson would think so. Sesungguhnya dia telah diambil “normal” orang-orang terlatih dan mereka berbakat tingkat kinerja di nomor memori tugas melalui sesi latihan yang berlangsung satu tahun atau lebih. Datang untuk berpikir tentang itu, ini adalah bukan apa yang besar dan musisi sportsmen lakukan? Ustad Ali Akbar Khan telah dikenal untuk berlatih pada sarod jam untuk setiap harinya; Pete Sampras dan Michael Jordan tenis dan bola basket berlatih setiap hari. Banyak praktek seperti itu dan persiapan (99 persen keringat) membuat banyak teknik dan metodologi kedua alam kepada mereka, yang memungkinkan untuk cepat dari imajinasi untuk terus bergerak-gerak (inspirasi).

Yang perlu diberikan maestros amalan mereka untuk tinggal di luar biasa tingkat kreativitas dan prestasi, adalah benar mundur? Praktek dapat menghasilkan genius? Ini adalah perdebatan yang hebat di lapangan sekarang. Ericsson mengatakan bahwa sepuluh tahun yang diberikan intens praktek, siapapun dapat menjadi sebuah keajaiban. Countering ini adalah “Mozart argumen”, lanjutan oleh banyak orang lain yang mengatakan bahwa hanya kerja keras tidak menghasilkan Mozart. Hal ini dapat menghasilkan tukang namun belum tentu seorang seniman, kecakapan teknis, namun tidak bakat. Mungkin ada sebuah komponen genetik – sebuah kecenderungan, sebuah kelemahan atau sifat yang diperlukan untuk memberi yang “inspirasi” atau kreatif melompat komponen. Anda mungkin juga menggunakan memori jangka panjang untuk “taman” data, materi, koneksi, pikiran – tetapi seperti ketersediaan ruang parkir atau memori bins mungkin tidak cukup. Apa yang anda taruh di sana sangat penting. Bapak Gamm yang mengesankan dalam aritmatika kemampuan luar biasa, tetapi sampai ia menampilkan orisinalitas, kreativitas atau melompat pemikiran bahwa kemajuan kami, ia tidak akan dianggap sebagai genius. Mei kita ingin dia yang Mozartian masa depan?

Efek yang Mozart: genius mendengarkan musik

Anak berbakat dan genius Wolfgang Amadeus Mozart baru-baru ini telah menjadi ikon di kalangan pendidik dan neuroscientists untuk alasan lain. Ia pada tahun 1993 bahwa fisika Gordon Shaw dari University of California dan concer selo dan kognitif Frances Rauscher ilmuwan mempelajari efek mendengarkan musik Mozart (Sonata untuk Two Pianos in D Major, K 448) pada masalah kemampuan lebih dari 50 mahasiswa. Mereka melihat laporan sementara perangkat tambahan di spatio-reasoning sementara kepada siswa dalam mendengarkan musik. Sayangnya, laporan tersebut masih tidak jelas dari kontroversi, karena ternyata mereka tidak hasil direproduksi oleh orang lain. Beberapa yang skeptis tentang seluruh urusan (lihat Skeptics Dictionary, skepdic.com, di The Mozart Effect). Ada orang lain yang sangat antusias mengenai efek dari musik pada tubuh dan pikiran yang mereka bahkan mengklaim bahwa musik cures menyembuhkan penyakit dan cedera. Campbell satu Don, yang memiliki merek dagang yang ekspresi Mozart Efek, menyatakan bahwa musik dapat menyembuhkan hampir segala hal yang ails anda. (Beberapa ada yang ditanyakan apakah yang akan jadi, mengapa Mozart itu sendiri sehingga sering sakit, dan mengapa tidak di dunia smartest, paling rohani dan paling atletis Mozart orang spesialis).

Kami telah membicarakan efek dari musik di pikiran sebelumnya dalam kolom (2 Mei 1993; Jul 4, 1996). Seperti pada tanggal, tidak ada digandakan dan teliti kajian ilmiah menunjukkan bahwa musik untuk menyembuhkan penyakit atau fisiologis disorders. Studi dilaporkan ke tanggal pada topik ini terlalu santai, terlalu selektif dan membiarkan terlalu banyak parameter buka tajam untuk membuat kesimpulan. Banyak dari kita mau percaya bahwa musik memiliki efek menguntungkan. Surely it does, it soothes the mind, menenangkan saraf, relieves ketegangan, membuat Anda santai dan bahkan membantu Anda memikirkan gagasan baru yang kadang-kadang. Tetapi untuk menegaskan bahwa `tanaman tumbuh lebih baik dengan musik ‘atau’ Anandabhairavi Raga relieves hipertensi ‘tidak dapat diterima karena ketiadaan bukti akurat atau digandakan hasil. Mengatakan bahwa mendengarkan Mozart Horn Concerto sedangkan untuk menerapkan shampoo your hair cures kepala botak (sebagai sebuah perusahaan Jepang yang beberapa tahun yang lalu) bahkan lebih parah.

Musik yang mempengaruhi yang paling

Hal ini umumnya datang untuk menerima bahwa musik dapat meningkatkan pikiran dari pendengar. Jenis musik adalah pertanyaan-Mozart atau Madonna, atau Pattammal DK Daler Mehndi? Musik apa tertentu elemen diminta? Beberapa studi oleh ahli saraf Illinois John Hughes menyarankan sequence berulang setiap 20 detik atau 30 Mei strongets memicu respon di otak, karena banyak fungsi-fungsi sistem saraf cetral (seperti pola gelombang otak) terjadi di tingkat ini. Mozart paling banyak di puncak ini menilai. Beberapa rumah sakit dan pusat-pusat perawatan memutar Gregorian Chants, yang memiliki variabel tetapi menyejukkan cadence. Ilmu yang ketat di belakang kejadian ini tidak perlu bekerja keluar sebelum kita menerima mereka sebagai benar-benar bermanfaat.

Yang sebenarnya jenis musik yang meningkatkan pikiran kita kemungkinan besar akan bergantung pada budaya kita steeped in Mungkin terdapat Common menentukan, yang sebenarnya musik yang mempengaruhi yang paling mungkin juga bervariasi dari satu individu ke lainnya. It would be sehingga menarik untuk mendengar dari pembaca tentang Komposisi musik India. Lakshmithathachar Profesor dari Akademi sanskrit Studies, Melkote, dengan siapa saya diskusikan hal ini beberapa tahun yang lalu, mengatakan bahwa chanting dari Medha Suktam dari Taitreya Upanishad, di meter atau yang benar chandas, diyakini untuk meningkatkan pikiran. Harus ada yang serupa atau chants petikan dari buku angkuh dan mazmur dari Kekristenan, Qur’an Suci, di Buddha Pects, yang Zend Avesta, maka Granth Saheb dan lain-lain. Terakhir, jenis dan berbagai musik yang menarik untuk meningkatkan dan fikiran individu juga dapat mengubah atau menambah dengan waktu. Saya sendiri daftar telah berkembang selama empat puluh tahun-Madurai Mani Iyer’s Shanmukapriya, Ali Akbar Khan’s Marwa, Ravi Shankar’s Jogeshwari, MS dari Nadanamakriya, Schubert’s Impromptus untuk Piano, Mozart’s Concerto untuk Dua Pianos dan Orchestra (Lodron, KV 242), dan paling baru-baru ini yang indah campuran Gregorian Chants dan Karnataka Raga Alapana, Dominique Vellard antara Perancis dan Aruna Sairam dari India, yang keduanya saling kompatibel dan meningkatkan.

D. Balasubramanian

LVPrasad Eye Institute

Hyderabad, 500 034


mmjr2


Genius diciptakan hanya melalui Latihan Latihan Latihan,  jangan berharap  Genius tanpa Latihan.

Genius Home Schooling melatih anak menjadi Genius sejak dini.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: